pelayanan prima sebagaimana yang kita pahami sebagai pelayanan yang sangat baik atau terbaik, namum dalam mengimplementasikan ukaan tanpa masalah berbagai masalah yang dihadapi dantaranya sulitnya para aparatur pemerintah memposisikan diri sebagai pelayan publik tetapi lebih merasa sebagai orang yang dilayani bukan sebagai pelayan. selain itu, masalah yang besar adalah sikap atasan yang kurang memiliki komotmen terhadap pelayanan masyarakat
Beberapa masalah yang dihadapi dalam pelayanan prima (roger harisson, 1972) yaitu :
- Kebiasaan mengacu tradisi pada atasan
- Kaku pada aturan sehingga kurang inisiatif
- Terlalu mengacu pada tanggung jawab swhingga mengesampingkan aspek kinerja dan pencapaian target
- Pengaruh dominan dari atasan
- Paham egosektoral tinggi yang mengesampingkan dampak bagi organisasi/ instansi lain
- Kurang akomodatif dalam menghimpun informasi
- Hubungan gierarkin yang kaku antara atasan dan bawahan
- Udaya organisai yang mengahambat kreatifitas dalam pelayanan
Permasalahan yang dihadapi oleh para birokrat dalam hal upaya menghadapi tuntutan Reinventing goverment :
- Upaya mempersiapkan aparatur pemerintah agar mampu menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat.
- Upaya meningkatkan kemampuan aparatur pemerintah dalam melayani masyarakat.
- Upaya menyiapkan aparatur yang melakukan pelayanan publik.
- Upaya menyiapkan aparatur yang kreatif dan inovatif.
- Upaya menginvestasikan sarana dan prasarana.
- Upaya mempersiapkan aparatur yang mampu menguasai sistem informasi.
Pemerintah sebagai pelaku pelayan publik harus memberikan kesan pelayanan yang baik dibawah kekuasaan dan kewenangan – kewenangan diri yang didukung oleh aspek hukum yang dikenakan bagi kepentingan masyarakat.
Birokratis adalah pelayanan pemerintahan yang berdampak pada “sosial cost”
Dengan adanya gerakan reinventing government secara pragmatis dan aplikatif akan mengkondisikan keadaan- keadaan sebagai berikut :
a) Lebih meningkatkan kepercayaan publik kepada pemerintah
b) Dinamika masyarakat yang bersifat civilized
c) Permasalahan mendasar dari kualitas pelayanan pemerintah tidak terletak pada sdm berada pada siste yang bekerja
UPAYA MEMBANGKITKAN EPERCAYAAN MASYARAKAT TERHADAP PELAYANAN PUBLIK (MENURUT DAVD OSBORNE)
Kesatu : masyarakat perlu diyakinkan bahwa birokrasi itu bukanlah gambaran tentang ! “KEBOBROKAN” bahwa, pemerintah harus dipandang sebagai suatu mekanisme menejemen yag mampu mewujudkan aspirasi – aspirasi masyarakat
Kedua : masyarakat perlu diyakinkan untuk meningkatkan kualitas budaya secara menyeluruh dibutuhkan pemerintah yang efektif , produktif dan efisien bahwa, kondisi ekonomi yang semakin! Industrializet dan fungsi pemerintah semakin meluas, maka sentralisasi semakin besar dan mendorong lahirnya standarisasi pelayanan
Ketiga : masyarakat perlu diyakinkan bahwa kondisi SDM (aparatur Pemerintah) bukan suatu sentral permasalahan dalam pelayanan publik, tetapi, sentral, permasalahan terletak pada sistem
Keempat : masyarakat harus diyakinkan bahwa pandangan liberalisme adalah tradisional atau liberalisme konserfatif dan skrip liberalisme perlu mendapat tempat lebih besar dan kinerja pelayanan publik jadi perlu pertimbangan yang dapat diterima oleh masyarakat secara meyeluruh
Kelima: masyarakat perlu diyakinkan bahwa setiap anggota memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan pelayanan publik diberbagai bidang publik
Dalam praktek pelayanan pelanggan sering terjadi kesenjangan yang muncul karena penilaian konsumen terhadap mutu pelayanan menurut konsumen didassari indikator (kualitas pelayanan berupa sarana fisik perkantoran , ruang tunggu komputer dan lain-lain) kemampuan dan kendala untuk menyediakan yang terpercaya untuk membentuk dan menyediakan pelayanan secara ceper dan tepat serta sanggup
KESIMPULAN
Dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan harapan pelanggan, permasalahan yang timbul bisa dari faktor eksternal yang dipengaruhi juga faktor internal. Berbagai masalah yang dihadapi tidak ada perbaikan dalam pelayanannya. Sikap atasan kurang mempunyai komitmen pelayanan yang baik.
Filed under: Wawasan Ditandai: | KETERKAITAN DENGAN ATASAN, KN INSTANSI, PELAYANAN YANG PRIMA, PENGARUH BUDAYA PATUH, SEORANG PEMIMPIN


.


Wew, bos..Kata-katanya banyak yang aku gak paham, terpaksa sambil buka kamus. Rakyat kadang mendapatkan pelayanan prima dengan syarat; asal nanti UUD (ujung-ujungnya duit). Ya, Tuhan, jauhkanlah hal itu dari negriku…
laporan boss.
laporan boss.
silahkan dicek.
ternyata masih lebih mudah membicarakan teori di dunia ini dibandingkan melakukan sendiri prakteknya…….masih banyak unsur x nya………………………………..
semua ada dunianya, semua ada bidangnya…yang lain cuma boleh komentar
kunjungan dan komentar balik ya gan
salam perkenalan dari
http://diketik.wordpress.com
sekalian tukaran link ya…
semoga semuanya sahabat blogger semakin eksis dan berjaya.
Lapor Pakade… Ane bru ngeblog bbrpa bulan lalu tp bukan di WordPress Pakade. Slam keakraban Pakade krna kita 1 kmpung. Heee…
Thanks infonya…
Pak, paradigma pelayanan yang terjadi saat ini terutama pelayanan publik adalah
1. kalau bisa diperlambat mengapa dipercepat
2. Kalau bisa dibayar kenapa harus gratis
3. kalau bisa bertele-tele kenapa harus praktis
Seharusnya pelayanan publik agar menjadi prima adalah:
1. Lebih Cepat (Faster)
2. Lebih Murah (Cheaper)
3. Lebih Baik (Better)
4. Lebih Baru (Newer)
5. Lebih sederhana (Simpler)
Mengapa pelayanan menjadi tidak prima? karena terlalu banyak kepentingan …..Sukses
terimakasih atas kunjunganya pak……… memang kenyataan itulah yang kita hadapi sekarang ini
salam rahayu…………..