Mendalami Wayang Purwa

Sangatlah penting belajar cara-cara menggunakan media komunikasi internet untuk menambah ilmu pengetahuan yang tidak ada batasnya, aku merasa bahagia karena sudah sedikit mengerti tentang penggunanya, sampai saya mempunyai Domain sendiri. semua ini tidak bisa saya lakukan tanpa ada campur tangan Allah dan kawan-kawan saya diantaranya pak Aktha, pak budi, pak bayu, pak yusman, yang semuanya membantu, memberi semangat, memotifasi, memberikan solusi, memberikan arahan dan pencerahan dari cara-cara belajar internet maupun juga tentang menjalani hidup yang semakin ketat dalam persainganya ini, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada beliau-beliau ini.
Sebagai seorang Seniman Dalang dan juga seorang Guru di SMA N 1 Dusun Tengah, Kab. Barito Timur, Kalteng , saya merasa terpanggil untuk mengembangkan diri melalui dunia maya ini, diantaranya mencari informasi yang tidak terbatas dan juga memberikan informasi yang mungkin heheheheheh sangat terbatas. Salah satu contoh yang akan saya informasikan tentang bagian-bagian dalam pertunjukan wayang purwa gaya Surakarta.
Disini saya akan mengawali salah satu bagian dari pertunjukan wayang purwa yaitu Dhodhogan. Apa itu Dhodhogan……………???????? Kata dhodhogan berasal dari bahasa jawa yaitu dhodhog yang berarti mengetuk pintu rumah ataupun pintu kamar ada juga kata dhodhok yang berarti jongkok. Setiap pertama kali pagelaran wayang akan dimulai yang dilakukan oleh ki dalang adalah dhodhogan.
Disini saya akan mencoba membahas dhodhokan dalam pertunjukan wayang purwa. Dhodhogan yang dilakukan oleh dalang itu menggunakan alat yang disebut cempala yang bahan dasarnya Dari kayu. Bermacam-macam kayu yang digunakan seperti kayu sawo, ulin/besi, asem, jambu, cendana dan yang lain-lain. Dijaman yang lebih modern ini ada juga membuat cempala menggunakan bahan dari fiber.
Cempala ada dua macam yaitu cempala asta dan cempala suku, cempala asta itu digunakan tangan untuk memainkanya dan cemala suku itu digunakan kaki untuk memainkanya, akan tetapi bentuk dan rupanya bermacam-macam sesuai selera dalang yang akan menggunakanya termasuk juga bahannya
Cempala suku juga ada yang bahan dasarnya dari perunggu, kuningan, dan besi, cemapala ini biasanya digunakan dalang wayang purwa gaya Jogjakarta sebagai alat membunyikan keprak/kecrek, cara penggunaanya cempala suku dijapit diantara jempol kaki dan telincing kaki lalu di tendangkan/ di jejak kan pada keprak yang sudah di gantung di kotak wayang
Begitu pula dengan penggunaan cempala oleh ki dalang, diketuk-ketukan pada kotak wayang yang berasal dari kayu juga jika dalang ingin menghendaki iringan atau aba-aba kepada pengiringnya/pengrawitnya.
Pedalangan wayang purwa gaya Surakarta mempunyai tiga macam dhodhogan yaitu : banyu tumetes, geteran, nungkak irama/minjal. Dhodhogan juga merupakan iringan sulukan dalang yang biasa terdengar didalam pertunjukannya. Disini dhodhokan mempunyai banyak fungsi bila itu dilakukan oleh dalang didalam pertunjukanya/pementasanya antara lain :
• Sebagai aba-aba untuk meminta gendhing/srepeg
• Sebagai aba-aba untuk memperhentikan gendhing/srepeg
• Sebagai aba-aba dalang akan melakukan sulukan
• Sebagai aba-aba keras dan lirih iringan
• Sebagai aba-aba mempercepat dan memperlambat iringan
• Sebagai jantung pernafasan dalam adegan wayang
• Sebagai pengatur kendangan dalam tarian/gerak wayang
Bermacam-macam fungsi dhodhogan tersebut hingga menimbulkan perubahan iringan dalam pertunjukan, itulah yang dinamakan interaksi antara dalang dengan pengrawitnya yang sudah mumpuni iringan wayang purwa.
Adapun iteraksi dalang bukan hanya dilakukan kepada pengrawitnya saja akan tetapi juga dilakukan terhadap sinden dan penontonya. Ki Purba Asmara salah satu dalang faforit saya diantara dalang-dalang yang berada di Pulau jawa mempunyai anggapan “bahwa beliau merasa gagal dalam pertunjukan wayangnya jika tidak bisa berinteraksi kepada penonton” ya…… tentu saja karena didalam pertunjukan wayang itu ada bebagai macam adegan, diantaranya trenyuh, lucon, wibawa/agung, asmara dan lain-lain, semua itu sudah digarap dengan memaksimalkan kemampuan seorang dalang untuk mengaharapkan perhatian dari penonton, misal bila dalang menyajikan adegan lucon penonton diharapkan bisa tertawa, adegan sedih penonton ikut merasakan dan lain sebagainya. Sehingga pertunjukan wayang purwa yang mempunyai durasi waktu yang sangat panjang tersebut tidak terasa monoton/menjenuhkan.

7 Tanggapan

  1. saya merasa bangga tinggal di wilayah kalimantan tengah, karena teman-teman masih semaangat dalam melestarikan budaya

  2. susah juga ya pa jdi dalang

  3. belajar dan belajar, tak ada kata terlambat!! ajarin bahasa jawa donk!!!! aku suka bingung sendiri ngeliatin yg lain pada rame ngobrol bahasa jawa.

  4. yuk ikutan lomba blog seepdy

  5. wah senangnya menggeluti seni tradisional seperti ini…

  6. salam kenal nggih Pak🙂

  7. Semoga kedepan anda menjadi salah satu dalang di era abad 21, yang sudah siap dengan kemampuan sesuai dengan tuntutan zaman globalisasi ini.🙂

    Salam sukses dari Solo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: